PADA Maret 2008 yang lalu PT Unilever Indonesia Tbk, sebuah perusahaan barang-barang konsumer, memulai operasi pabrik produk perawatan kulit yang terbesar di Asia.
Pabrik tersebut dibangun di kawasan industri Jababeka di Cikarang dan biayanya sekitar setengah triliun rupiah. Dari mana sumber pembiayaan investasinya? Dari internal cash flow, yaitu dari kas perusahaan yang dimiliki tanpa melakukan pinjaman sepeser pun dari perbankan maupun pasar modal. Beberapa waktu lalu Kalbe Farma juga membangun pabrik susu Morinaga di daerah Cikarang dengan total investasi yang tidak kalah besar. Dari mana sumber pembiayaannya? Dari kas perusahaan dan tanpa menggunakan sumber pinjaman bank maupun obligasi.
Demikian juga waktu pabrik obat Konimex membangun rumah sakit di Solo Baru maupun di Boyolali, sumber pembiayaan pembangunannya berasal dari kas perusahaan. Saya yakin cerita semacam ini banyak sekali terjadi.Terlebih jika melihat pembangunan perumahan yang dilakukan oleh masyarakat sendiri, maka sangat banyak dari mereka yang membangun rumah dengan uang tabungan yang telah mereka kumpulkan. Banyak pula rumah yang mereka konversi menjadi salon, restoran, toko,warung internet, bahkan warung barang-barang kelontong.
Di Kalimantan dan Sumatera banyak petani maupun anggota masyarakat lain yang membangun kebun karet maupun kelapa sawit secara pribadi tanpa melibatkan bank sama sekali. Semua hal tersebut merupakan investasi yang sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan perekonomian kita. Dengan melihat perkembangan tersebut, kita bisa membayangkan betapa dinamisnya perekonomian Indonesia saat ini.
Ternyata kemampuan berinvestasi, baik yang informal maupun formal, telah dimiliki oleh masyarakat maupun dunia usaha Indonesia,bahkan sebagian (besar) mereka lakukan secara swadana. Kemampuan inilah yang pada akhirnya memberikan dorongan yang besar bagi perkembangan perekonomian Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Kebutuhan Investasi Rp2.000 Triliun
Dalam media kita beberapa hari lalu terbetik berita adanya kebutuhan investasi selama lima tahun ke depan sebesar Rp2.000 triliun untuk bisa menumbuhkan perekonomian sebesar 7% per tahun. Saya tidak tahu dari mana dasar perhitungan angka tersebut. Jika kita menggunakan metode yang dulu sering dipergunakan oleh Bappenas, maka kebutuhan investasi satu tahun saja untuk bisa menumbuhkan perekonomian sebesar 7%, dengan asumsi kebutuhan modal untuk menghasilkan Rp1 PDB adalah sebesar Rp4 (yaitu incremental capital output ratio/ ICOR sebesar 4), maka jika tahun 2009 ini PDB yang dihasilkan sebesar Rp5.500 triliun, maka pertumbuhan sebesar 7% untuk tahun 2010 akan menghasilkan angka pertumbuhan nominal sebesar Rp385 triliun.
Jika ICOR-nya sebesar 4 (saya juga banyak pertanyaan mengenai kesahihan angka ICOR sebesar 4 ini), maka kebutuhan investasi dalam satu tahun adalah sebesar Rp1.540 triliun. Dalam jangka waktu lima tahun, dengan PDB yang terus meningkat, maka kebutuhan investasinya akan mencapai sekitar Rp10.000 triliun, atau sekitar Rp2.000 triliun per tahunnya. Ini berarti kebutuhan investasi sebesar Rp2.000 triliun bukan hanya untuk lima tahun, tapi untuk tiap tahun selama lima tahun ke depan.
Mampukah kita memenuhi kebutuhan investasi tersebut? Saya yakin kita mampu memenuhinya. Secara formal, perbankan senantiasa disebutkan sebagai sumber pembiayaan investasi kita. Indonesia memiliki rasio aset perbankan terhadap PDB sekitar 50%. Sementara rasio di Malaysia sekitar tiga kali lipatnya dan Singapura lima kali lipatnya. Ini berarti secara alamiah akan terjadi pertumbuhan aset perbankan Indonesia yang lebih cepat dari pertumbuhan nominal PDB kita. Dalam beberapa tahun terakhir ini pertumbuhan nominal PDB Indonesia mencapai lebih dari 10%.
Bahkan pada 2008 pertumbuhan nominal mencapai sebesar 25,4%.Sementara itu, semester pertama 2009 ini pertumbuhan nominal PDB sebesar hampir 14%.Jika total aset perbankan Indonesia sekitar Rp2.500 triliun, maka pertumbuhan sebesar 20–30% akan menghasilkan kenaikan aset antara Rp500–Rp750 triliun,dan angka ini meningkat terus. Ini berarti bahwa potensi perbankan sebagai sumber pembiayaan akan terus membesar. Hal yang sama akan terjadi di pasar modal kita.Kapitalisasi pasar modal Indonesia terus mengalami peningkatan.Dengan masuknya lebih banyak perusahaan yang terdaftar dalam pasar modal, akan semakin besar kapitalisasinya.
Sementara itu,sumber dana hasil IPO tersebut ditambah dengan hasil dana dari rights issue, penjualan obligasi lokal maupun global, dan sebagainya akan menjadi sumber pembiayaan yang besar. Dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah akan terkumpul lebih dari Rp200 triliun setiap tahunnya.Jumlah tersebut juga berkembang secara eksponensial. Ini berarti bahwa pada 2014 nanti sumber dana dari investasi ini mungkin saja akan mencapai antara Rp400 triliun–500 triliun.
Ini berarti kemampuan pemerintah berinvestasi akan semakin lama semakin besar. Sumber investasi asing pun demikian. Kalaupun realisasi investasi mereka tidak pernah muncul dalam statistik BKPM, itu tidak berarti mereka tidak berinvestasi. Perusahaan seperti Unilever melakukan investasi sekitar Rp1 triliun per tahun dan sampai saat ini semuanya masih dibiayai oleh kas perusahaan. Honda Motor pada 2010 juga akan melakukan ekspansi pabriknya dengan biaya Rp1 triliun.
Barclays Bank, yang mengakuisisi Bank Akita, melakukan ekspansi agresif tahun ini dan tahun-tahun mendatang,sehingga investasinya pun akan sangat besar. Sementara itu Volkswagen akan melakukan investasi sebesar USD140 juta pada 2012. Berbagai cerita semacam ini memperkuat keyakinan kita akan besarnya potensi investasi asing. Akan tetapi saya yakin porsi terbesar dari investasi Indonesia adalah investasi yang tidak muncul ke permukaan secara jelas,yaitu pembangunan rumah, toko, restoran, warung, alat produksi (untuk home industry), mobil dan motor untuk sarana angkutan (taksi, mikrolet dan ojek), bahkan juga pabrik yang dilakukan tanpa banyak ramai-ramai dengan sumber pembiayaan sendiri.
Pada akhirnya kita hanya akan melihat semakin cepatnya pergerakan bola salju yang semakin lama semakin besar. Di ujungnya, kesejahteraan masyarakat Indonesia akan berkembang sesuai dinamika ini.(*)
Kaitkata: ekonomi